Keluarga Paduan Angklung Institut Teknologi Bandung

081809666554Call Us On

Angklung Unik

aaaaaaaaq

Tahukah Kamu?

Banyak angklung-angklung unik di Indonesia. Selama ini yang sering kita lihat pada seni pertunjukan angklung adalah angklung konvensional yang terdiri dari satu tabung induk dan satu tabung anak. Pernah bayangkan angklung lebih besar dari pemainnya? atau pernah liat angklung dengan hiasan unik?. Yap, kita akan berbagi beberapa angklung unik yang ada di Indonesia.

Angklung Gubrag

img_2214-large

Angklung tertua dalam sejarah yang saat ini masih ada yaitu Angklung Gubrag dibuat di Jasinga, Bogor dan diperkirakan telah ada sejak 400 tahun yang lalu, sebagai bagian dari ritual menanam padi (melak pare), mengangkut padi (ngunjal pare), dan menempatkan padi di lumbung (ngadiukeun pare). Konon tradisi ini berawal saat Kampung Cipining Bogor mengalami masa paceklik, sehingga mereka membuat bunyi-bunyian agar sawah mereka kembali subur. Angklung yang digunakan berukuran 50 cm – 1 meter dan berlaras pelog. Sebagai kendang digunakan juga sebuah dogdog lojor

Angklung Buncis

buncis 1

Merupakan pertunjukan hiburan yang berkembang di Arjasari Kabupaten Bandung. Dahulu, angklung Buncis merupakan bagian dari ritual penghormatan padi, tapi sejak tahun 1940-an fungsinya bergeser menjadi seni pertunjukan hiburan, seiring dengan berubahnya tradisi pengelolaan hasil panen di kawasan tersebut

Alat musik yang digunakan dalam angklung buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung penempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok, dan 3 buah dogdog (talingtit, panembal, dan badublag).

Angklung Badud

buncis

Angklung Badud biasanya diadakan untuk mengiringi karnaval (helaran). Pada awalnya kesenian digunakan untuk mengarak anak-anak yang akan menjalani khitan. Pada zaman dahulu sebelum dikhitan, anak-anak itu harus berendam di kolam agar separuh badannya kebal dan tidak merasakan sakit saat dikhitan. Untuk menghibur dan memberi semangat, anak, tersebut diarak diarak sambil duduk di atas tandu, dan masyarakat ikut menghandiri keramaian itu sambil memberi hadiah uang untuk yang dikhitan. Sampai tahun 1970-an tradisi ini masih ramai dilakukan.

Angklung Bungko

bungko

Angklung Bungko adalah kesenian khas Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, Indramayu. Pada awalnya kesenian ini diadakan untuk mengiringi tawuran antar warga desa, sehingga bunyinya cenderung dinamis dan bergemuruh disertai tari-tarian. Alat musik yang digunakan adalah angklung bungko yang saat ini sudah berusia ratusan dan tidak digunakan lagi tapi harus tetap ada pada saat pertunjukan. Waditra atau alat musik lain adalah kohkol (kentongan), tiga buah ketuk, sebuah gong, dan sebuah kandang.

Angklung Dogdog Lojor

dogdog lojor

Seni angklung ini berkembang di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan yang mendiami sekitar gunung Halimun (perbatasan Sukabumi, Bogor, dan Lebak), sebagai pengiring upacara Seren Taun di pusat kampung adat yang diadakan setiap tahun. Setelah masyarakat disana menganut Islam dalam perkembangannya, kesenian tersebut juga digunakan untuk mengiringi khitanan dan perkawinan. Saat ini dogdog lojor juga dipentaskan untuk hiburan, memeriahkan acara menarik dengan adanya Gondang dan Lesung yang ditabuh secara berirama. Peralatan yang digunakan adalah dua buah dogdog lojor dan empat buah angklung yang bernama Gonggong, Panembal, Kingking, dan Inclok yang dimainkan oleh 6 orang dengan irama cenderung tetap.

Angklung Bongkel

bongkel1

Bongkel atau kerap disebut gondolio oleh warga setempat, adalah alat musik tradisional khas Banyumas serupa angklung. Bedanya, alat yang kemudian bertransformasi menjadi krumpyung ini hanya terdiri atas satu buah instrumen dengan empat buah bilah berlaras slendro dengan nada 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma) dan 6 (nem). Serta bambunya yang berdiameter sekitar 5-7 cm. Di bumi Panginyongan, Banyumas, tidak semua orang bisa memainkan bongkel. Sebab, alat musik ini cukup rumit. Lagu yang dimainkan pun hanya berjumlah tujuh buah. Diantaranya Gondoliyo, Cucu Benik, Kulu-kulu dan Jo lio . Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang sinden yang berjenis kelamin laki-laki.  Dahulu, bongkel menjadi “teman” petani hutan saat menunggu bibit tanaman yang masih kecil. Alat ini dibawa masuk ke dalam hutan untuk menghibur diri serta mengusir babi hutan yang hendak menyerang. (jay)

MANTAP KAN GAN?

#KPAProgressive