Keluarga Paduan Angklung Institut Teknologi Bandung

081809666554Call Us On

ANGKLUNG TANPA GENDER

Angklung adalah alat musik tradisional yang berkembang dalam masyarakat Sunda. Angklung sudah ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November 2010. Hal ini tentu saja berkat upaya masyarakat Indonesia yang terus berusaha melestarikan kesenian angklung di bumi pertiwi. Instansi pendidikan formal di Indonesia pun turut serta berupaya melestarikan angklung sebagai budaya Indonesia.  Terbukti dengan adanya kegiatan ekstrakulikuler angklung di banyak sekolah formal di Indonesia. Di lingkungan masyarakatpun banyak terbentuk komunitas angklung sebagai upaya pelestarian budaya angklung. Baik komunitas, kegiatan ekstrakulikuler di sekolah formal, ataupun kegiatan melestarikan angklung lainnya pasti memiliki tim pertunjukkan angklung masing masing.

Ada yang unik dari tim pertunjukkan angklung di manapun. Mayoritas peserta tim penampil tersebut adalah wanita. Walaupun ada peserta pria, hamper dapat dipastikan jumlahnya lebih sedikit daripada peserta wanita. Padahal, dilihat dari bentuk fisiknya, angklung sama sekali tidak mencirikan gender tertentu. Justru dilihat dari sejarahnya, angklung pernah digunakan sebagai musik perang Kerajaan Sunda dalam kancah Perang Bubat tahun 1357.

Biasanya pertunjukkan angklung dimainkan oleh banyak orang dalam satu tim. Jenis tim angklung pun bermacam-macam. Paduan angklung adalah tim angklung yang menampilkan angklung sebagai sajian utama. Arumba adalah tim angklung yang menampilkan angklung diiringi alat music bambu lainnya seperti gambang atau bas pukul. Ada pula yang disebut angklung chambel orchestra, yakni tim angklung yang hanya terdiri dari sedikit pemain, biasanya lima belas orang dalam satu tim.

Dilihat dari jenis-jenis tim pertunjukkan angklung, seorang anggota tim hanya akan memainkan dua hingga lima angklung saja. Bahkan masyarakat umum mungkin sering menganggap bahwa masing-masing anggota tim pertunjukkan hanya memainkan satu angklung saja. Berat dua sampai lima angklung bisa dikatakan cukup ringan. Hal ini bisa saja menjadi hal yang menarik bagi wanita penggemar musik yang tidak mau bersusah payah saat melakukan pertunjukkan musik. Wanita akan lebih memilih mengangkat alat musik yang lebih ringan tentunya dibandingkan alat musik selain angklung yang bisa jadi lebih berat. Ditambah lagi jika satu lagu dimainkan oleh banyak orang yang masing-masing hanya bertanggung jawab atas dua hingga lima nada saja maka akan lebih ringan beban mental masing-masing pemain dibadingkan alat musik lain yang memainkan banyak nada. Tentu saja kebanyakan wanita akan lebih menyukai kegiatan yang lebih ringan beban mentalnya.

Angklung cenderung mudah dimainkan. Pemain hanya perlu menggetarkan angklung untuk memainkan angklung dengan cara kurulung dan memukul angklung untuk memainkan secara centok. Ini jauh lebih mudah dibandingkan alat musik lain baik alat musik petik, pukul, gesek, ataupun tiup. Apalagi tidak ada variasi lain selain tengkep untuk memainkan angklung, tidak seperti alat musik multinada yang harus disesuaikan untuk membunyikan nada tertentu. Hal ini menjadi nilai lebih dari alat musik angklung. Wanita tentu lebih suka sesuatu yang mudah dan praktis.

Kemudahan dan nilai lebih angklung untuk menarik peminat terutama kaum wanita justru bisa menjadi salah satu alasan sebagian kaum pria kurang tertarik menggeluti kesenian angklung. Pria cenderung lebih menyukai sesuatu yang menantang. Dilihat dari kemudahan memainkannya, angklung bisa dibilang kurang menantang bagi para pria. Sebagian besar pria lebih menyukai kegiatan yang aktif bergerak tidak seperti bermain angklung. Dalam hal musik pria cenderung lebih menyukai alat musik yang kekinian dan/atau alat musik yang dinilai romantis atau bisa memberi nilai ketertarikan lebih bagi pemainnya dari lawan jenis seperti gitar, bass, drum. Mungkin banyak pria yang menganggap angklung tidak kekinian dan tidak ‘gaya’ sehingga cukup sedikit pria yang berminat.

Tetapi sebenarnya menaampilkan pertunjukkan angklung tidak semudah itu. Dilihat dari jenis tim pertunjukkan angklung, alat musik lain juga bisa saja dilibatkan. Ini bisa menjadi pertimbangan bagi para pria agar bisa terlibat dalam tim pertunjukkan angklung. Sebut saja gitar, bass, contra bass, cajon. Alat-alat musik itu lumayan digemari pria karena alasan-alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, tim pertunjukkan angklung juga membutuhkan conductor. Sifat alami pria cenderung memenuhi kriteria seorang conductor, seperti berani, berwibawa, bisa mengayomi anggota, konsisten. Tetapi tidak ada salahnya juga apabila pria memainkan angklung.

Angklung diciptakan bukan untuk gender tertentu. Angklung bukanlah alat musik untuk dimainkan suatu golongan tertentu. Semua orang berhak memainkannya. Warga Negara Indonesia wajib melestarikannya. Masalah peminat wanita lebih banyak daripada peminat pria hanyalah soal selera saja. Tidak sepatutnya kita melupakan budaya kita, jati diri kita. Berbanggalah karena Indonesia punya angklung.(iqbal)