Keluarga Paduan Angklung Institut Teknologi Bandung

081809666554Call Us On

Melacak Jati Diri

Berbudaya berarti mempunyai identitas, bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang memiliki identitas. Kalimat tersebut adalah ucapan Harry Patra, seorang instruktur angklung di Saung Angklung Udjo. Mulai dari tarian, lagu, ritual, tradisi, hingga alat musik. Keanekaragam budaya Indonesia telah diakui di mata dunia. Hal tersebut terbukti dengan tercatatnya beberapa budaya Indonesia oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Pada November 2010, UNESCO telah menyatakan angklung sebagai Karya Agung Warisan Lisan dan Nonbendawi Manusia (World Intangible Heritage). Siapa yang menyangka? Bahwa alat musik sederhana yang terbentuk dari potongan-potongan bambu tersebut akan menarik mata dunia. Siapa yang menyangka? Bahwa alat musik yang berawal dari kebutuhan dalam ritual penyambutan Dewi Sri akan menjadi salah satu jati diri bangsa Indonesia di mata dunia? Mengapa? Apa yang membuat angklung dapat menarik hati masyarakat luas? Pesona apa yang dimilikinya?

Jangan pernah berani untuk meremehkan alat musik sederhana dari bambu tersebut. Dengan keserhanaan yang dimilikinya, angklung berhasil menggapai berbagai macam prestasi baik di dalam negeri ataupun di mancanegara. Diantaranya, pada tanggal 24 April 2015, tepat saat peringatan Konferensi Asia-Afrika dalam pentas “Harmony Angklung for The World” sebanyak 20.704 orang memainkan angklung bersama-sama di Stadion Siliwangi Bandung. Hal tersebut telah diabadikan dalam World Guinness Book of Record. Sebelumnya pada Juli 2011, Dubes RI untuk Washington DC, Dino Patti Djalal berhasil memukau masyarakat Amerika dengan angklung, ketika angklung dimainkan oleh lebih dari 5.102 orang di Washington DC. Selain itu, masih banyak prestasi yang telah diukir oleh bangsa Indonesia mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, ataupun pekerja, bahkan orang yang sudah tua sekalipun. Atas nama angklung, mereka berhasil menorehkan identitas Indonesia di mata dunia.

Pada tahun 2016 yang lalu, betempat di Osaka dalam acara Indonesia Week, suara 1.000 angklung telah bergema. “Saya terpukau dengan keindahan suara alat musik tersebut. Seperti aliran air yang menenangkan jiwa.” komentar Masanori Takahashi, seorang pakar alat musik tradisional di Jepang. Budaya memungkinkan kita untuk saling mengerti lebih baik, dan apabila kita saling mengerti dengan menggunakan jiwa kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi ataupun politik antar negara. Dalam hal tersebut, angklung telah menjadi senjata yang digunakan untuk menciptakan perdamaian dunia, merasuk dan memukau dunia dengan alunan suaranya. Dibalik strukturnya yang sangat sederhana, ternyata angklung memiliki peranan yang sangat penting. Hanya dengan menggoyang angklung, menggemakan suaranya, dunia dapat membisu terpukau.

Dalam era-globalisasi ini, angklung dapat bertahan. Berhasil menunjukan pesonanya pada manca negara. Berhasil meningkatkan keinginan masyarakat manca negara untuk lebih mengenal Indonesia. Tetapi, bagaimana dengan kita? Adakah partisipasi kita untuk mencintai alat musik tradisional tersebut? Mempelajari angklung tidaklah sulit, dibanding dengan ilmu science ataupun social yang kita pelajari di sekolah. Tetapi saat kita mempelajari angklung, maka saat itu juga angklung mengajari kita mengenai science dan social. Science, bahwa hanya dengan potongan bambu yang tersusun sedemikian rupa, bunyi yang indah dapat dihasilkan. Social, bahwa hanya dengan potongan bambu yang digoyangkan tersebut maka memungkinkan kita untuk bersatu dalam harmoni, kebersamaan. Selain mempelajari angklung yang tidak sulit, untuk mempelajri angklungpun tidak membutuhkan biaya yang besar. Lalu, apakah yang menghambat kita untuk mengenal budaya kita sendiri?

Angklung adalah milik bersama, tanggung jawab bersama dan kebanggaan bersama dari Indonesia untuk dunia. Angklung adalah salah satu jati diri kita. Salah satu budaya yang kita banggakan. Kemanapun kita melangkah, maka kita akan selalu membawa budaya kita bersama kita.  Bagaikan identitas yang akan terus melekat dalam diri kita. Apabila orang lain saja bersemangat untuk mempelajari diri kita, mengapa kita enggan untuk mempelajari diri kita sendiri? Untuk hanya memperhatikan budaya kita sendiri tanpa memberikan kontribusi, maka eksistensi kita layaknya hantu. “Karena budaya suatu negara terletak di dalam hati dan jiwa bangsanya”, ucap Mahatma Ghandi. Budaya merupakan identitas suatu bangsa, karena melalui budayalah kita mengekspresikan diri kita.

 

 

“Culture is widening of the mind and of the spirit”

-Jawaharlal Nehru-

(kenzie)